Rabu, 11 Januari 2012

MUHIMA

Ku  awali pagi dengan menghadiri pemilihan ketua HMPS, Himpunan Mahasiswa Program Studi, beserta kepengurusan yang baru. Sesuai jadwal, tepat pukul sembilan aku telah berada di Auditorium. Belum ada tanda-tanda acara akan segera dimulai.

“jadi gimana? Calonnya sekarang tunggal, Arif  belum juga daftarin diri.” Keluh seorang senior perempuan yang merupakan salah satu panitia acara.

“kita tunggu sampai Arif datang.” Jawab seorang laki-laki diantara mereka. Setahuku dia adalah Ketua Pelaksana MUHIMA kali ini, dan juga merupakan calon tunggal yang dimaksud.

“tapi syarat waktu pendaftaran kandidat yang ada pada surat edaran berakhir  tepat jam sembilan. Sekarang liat jam berapa, udah lebih sepuluh menit.” Kembali ku dengar gadis yang sama mengungkapkan kekhawatirannya.

“ya udah , kita perpanjang waktunya sampai tepat setengah sepuluh, kalo Arif belum datang juga, terpaksa kita mulai acaranya.” Kembali Ketua Pelaksana memberi keputusan. Sepertinya dia menginginkan pula bertarung dengan Arif dalam pemilihan kali ini.

            “dia memang tak mungkin akan mendaftar sebagai calon pemimpin HMPS berikutnya.” Gumamku dalam hati setelah ku ketahui Arif telah dipercayakan menjabat sebagai Sekretaris Umum di LDK. Aku sendiri sebenarnya tidak habis pikir apa alasan Arif tak tertarik menempati posisi Ketua di HMPS. Apa sih yang dia pikirkan? Jangan bilang dia tidak menginginkan menjabat sebagai Ketua pada perkumpulan tertinggi Komunitas Mahasiswa Bahasa Inggris di kampus ini. Ku pikir inilah posisi yang diburu oleh sebagian besar mahasiswa. Atau dia benar-benar seorang yang tidak ambisius dalam hal jabatan? Ah, aku tak akan pernah tau apa alasan sebenarnya kalau tidak bertanya langsung pada orangnya. Tapi bagaimana mungkin aku bisa bertanya padanya, menegurnya saja aku tak memiliki keberanian. Entah apa sebabnya.

            Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh tepat. Sesuai janjinya, sang Ketua Pelaksana kemudian mengajukan memulai acara. Habislah kesempatan Arif untuk tahun ini. Wajah kecewa ku lihat dalam ruangan itu. Aku baru sadar hanya beberapa orang yang berada didalam Aula yang berkapasitas tujuh ratus orang ini. Tidak lebih dari empat puluh orang, padahal mahasiswa Bahasa Inggris setahuku tercatat sekitar delapan ratus orang. Mungkin juga karena pelaksaan sidang yang diadakan pada minggu-minggu ujian, juga ikut menjadi penyebab tak banyaknya mahasiswa yang menampakkan diri dalam acara ini, kecuali beberapa mahasiswa yang tak memiliki jadwal kuliah atau ujian hari ini, dan beberapa mahasiswa dengan loyalitas yang cukup tinggi pada HMPS TBI.

            Acara kemudian di ambil alih oleh Nadia, teman sekelasku yang bertugas sebagai MC. Satu-persatu susunan acara dibacakan. Nama Riani dipanggil untuk membacakan Al Qur’an sebagai permulaan agar program kali ini diberi kelancaran dan hasil yang memuaskan dari awal hingga akhir. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian kata sambutan dari Ade Alfa selaku Ketua Pelaksana. Sebagai mahasiswa jurusan bahasa, Ade mencoba kemampuannya berbicara dalam bahasa Inggris, sedikit terpatah-patah, dan ada beberapa penggunaan tata bahasa yang tak sesuai didalam ucapannya. Tapi itu satu nilai positif, dia mampu menghilangkan rasa  minder atau rasa ketidakmampuannya dalam berbahasa asing, maka dari itu, semua mahasiswa kupikir tak salah untuk selalu mempraktekkan berbahasa asing setiap berkomunikasi dengan sesama komunitas mereka. Karena memang hal ini sangat membantu dalam kelancaran kita berbicara dalam bahasa asing. Andai saja semua pembalajar bahasa menyadari pentingnya hal itu.

“Ok, I think will be better if I’m speak in Indonesian…”  sang Ketua Pelaksana terus melanjutkan ucapannya setelah lebih dulu mengusulkan untuk menggunakan bahasa Indonesia demi kelanjutan sambutannya. Usai bercerita beberapa menit di podium,  disusul Kata sambutan dari Ketua HMPS lama, acara pembukaan pun memasuki bagian penutupan, yaitu do’a. Arif belum juga menampakkan diri. Setelah sedikit diskusi dengan beberapa panitia, akhirnya pembacaan do’a yang seharusnya menjadi tugas Arif diserahkan pada Rahman. Otakku menyimpan banyak pertanyaan tentang musyawarah himpunan mahasiswa kali ini. bagaimana bisa pelaksana dalam kegiatan tak menempati posisinya saat acara telah dimulai. Sungguh aneh, pikirku.

            Acara pembukaan telah berakhir, Arif baru saja memasuki ruangan diikuti beberapa mahasiswa lain. Aku memperhatikannya sejenak. Riani menepuk lenganku lembut dan mengajak keluar ruangan sembari menunjuk pada jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas tepat, artinya ujian untuk mata kuliah Listening akan dimulai lima menit lagi. Dengan sedikit terpaksa aku beranjak dari tempat duduk semula dan melangkah keluar ruangan bersama Zeeta, Yuni, dan Nadia menuju labor bahasa yang terletak di belakang auditorium.

            “kok kak Arif baru datang sih?”  Tanya Yuni padaku, Riani, dan Zeeta, sementara Nadia telah melangkah lebih dulu didepan kami. Aku hanya mengangkat bahu, begitupun Riani dan Zeeta.

“kabarnya dia ga ikut daftar jadi calon ketua HMPS. Kenapa ya? Padahal dia kan calon yang perfect sebagai ketua HMPS yang baru.”  Riani bertanya-tanya berikut memberikan pendapatnya.

“yang aku denger sih dia ga bisa karena dia itu udah diangkat sebagai ketua FSI kampus.” jawabku

“siapa yang bilang gitu ukh?”

“ga tau, aku juga baru denger dari Zakya beberapa hari yang lalu”

“apaan tuh FSI?”  Tanya Yuni padaku dengan wajah sedikit penasaran.

            “Forum Studi Islam kalo ga salah. hehehe…”

            Riani kemudian menjelaskan pada Yuni mengenai FSI yang baru saja kami bicarakan. FSI adalah sebuah perkumpulan himpunan program kerja masing-masing HMPS dari semua program studi di kampus yang menyangkut pelaksaan Dakwah Kampus. Arif dipercaya sebagai Ketua dari perkumpulan tersebut.

            Masing-masing peserta ujian mulai fokus dan mempersiapkan diri menjawab soal-soal  ujian setelah lembar jawaban dibagikan Miss Rini, Dosen paling muda di Program Studi Bahasa Inggris. Karena ini adalah ujian Listening, soal ujian di perdengarkan melalui sebuah rekaman suara. Semua peserta serius mendengarkannya.

            Usai makan siang, kami kembali ke Aula dan mengikuti jalannya sidang.  Sebagai mana yang sudah ku ketahui, sidang adalah acara yang paling membosankan dan ini adalah keikutsertaanku yang keempat. Tiga sidang dari organisasi berbeda, ku tinggalkan setelah separuh jalan.  Tapi kali ini aku bertahan didalam ruangan. Menikmati kehadiran Arif didalam acara ini.

            Memasuki Pleno kedua dengan agenda pembacaan LPJ dari kepengurusan yang lama, beberapa pertanyaan dihadapkan peserta sidang pada ketua HMPS yang dianggap tidak menjalankan tugas dengan baik. Satu-persatu pertanyaan ia tanggapi dengan sabar dan dijawab semampunya. tak seperti sidang pleno yang pertama, aku hanya diam menyaksikan semua itu. ku pikir tanpa berkomentarpun mengenai LPJ –LPJ yang dipertanyakan oleh peserta sidang lainnya, rasanya suaraku sudah cukup terwakilkan oleh mereka.

            Akhirnya seorang mahasiswa senior yang pernah menjabat Ketua HMPS periode sebelumnya mengetengahi perdebatan itu. Meminta pengakuan dan permohonan maaf dari Ketua HMPS lama kepada para peserta sidang atas kelalaiannya dalam memimpin, dan ia juga meminta peserta sidang tidak semena-mena menyalahkan ketua yang tak membangun komunikasi dengan bawahan-bawahannya sehingga banyak program kerja yang tersusun untuknya tidak terlaksana sebagaimana mestinya.

            Sidang Pleno dua diakhiri dengan mengesahkan lembaran LPJ dari Kepengurusan lama dengan beberapa syarat dari peserta sidang yang sudah disepakati. Seluruh peserta sidang membubarkan diri. Aku berjalan seorang diri menuju gerbang kampus mengarah pulang. Seorang mahasiswa berjalan persis di belakangku…

            “ehhmm, aktivis ya?” Sapanya setelah langkah kami sejajar. Entah atas dasar apa dia menebak seperti itu. Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Ridho Irawan, Ketua HMPS lama yang tadi diserbu pertanyaan dari peserta sidang.

            “masuk organisasi apa?” lanjutnya.

            “LDK sama UKM BKM kak.” jawabku singkat.

            “tadi di ruang sidang kenapa diam aja? kok ga ikut bersuara seperti yang lainnya?”

            “pada sidang satu aja udah cukup menyuarakan pendapat kok kak.” kembali ku jawab pertanyaannya seperlunya. "aku cukup kasian saat beberapa peserta sidang melemparkan banyak pertanyaan yang menyudutkanmu. Jadi kalau aku ikut-ikutan menambah pertanyaan, kasian kamu nya kak." simpanku dalam hati.

 Kami terus melangkah sampai pada persimpangan menuju kosku. Seorang senior kemudian menghampiri kami. Ridho kemudian menaiki motornya sembari tersenyum pertanda mohon dirinya. Aku membalas dengan senyum yang sama. Seringkali setiap perjalanan pulang aku melihatnya mengendarai motor dengan arah yang sama. Tapi aku memang tak pernah menegurnya. Begitupula ia yang menurut pengakuannya memang adalah tipe orang yang tak berani menegur orang yang belum dikenal terlebih dahulu, tapi kali ini dia seperti ingin merubah ketidakberaniannya yang merugikan dirinya itu hingga menyebabkan dia selalu mengalami kesulitan berkomunikasi dengan para perangkat kepengurusan periode jabatannya. Semoga ia berhasil, do’aku.

Sidang hari kedua memasuki agenda Pleno ketiga dan  pembagian anggota komisi dimulai dengan menghitung dari A sampai C menurut kursi yang kami tempati. Masing-masing komisi membicarakan hal yang berbeda. Untuk komisi A, dimulai dengan mengusulkan struktur kepengurusan yang baru beserta program kerjanya. Pembahasan AD/ART menjadi  tugas Komisi B dan aku bersama anggota komisi C lainnya kebagian tugas memberikan beberapa rekomendasi tambahan kegiatan untuk program kerja kepengurusan berikutnya. Sayang sekali, aku tak menempati komisi yang sama dengan Arif. Usai memberikan beberapa rekomendasi, mataku tak lepas memandangi sosoknya yang tengah serius dengan pembahasannya bersama anggota komisi A lainnya.

           
           

Rayuan dan Pembenaran



Besok adalah ujian terakhir untuk semester pertamaku disini. Ujian Mata Kuliah Listening. Tak ada bahan yang perlu dibaca ulang karena ini adalah Mata Kuliah untuk menguji kemampuan mendengar bahasa asing yang diperdengarkan untuk setiap mahasiswa. Malam ini kuhabiskan dengan mengobrol-ngobrol dengan beberapa teman sekamar. Kemudian pandanganku beralih memperhatikan layar handphone yang tergeletak tak berdaya disampingku. Aku mengacuhkannya sejak waktu sholat magrib menyapa bumi. Ku raih ia kali ini. Tiga pesan singkat mengundangku membaca. Ku buka yang pertama masuk terlebih dahulu. Dari Dedy. Seorang teman yang ku kenal perantara nomor handphone yang nyasar pada seorang temanku kala itu. Untuk memperluas jaringan pertemanan, aku tak menolaknya untuk sesekali  mengobrol denganku. Meski berbincang dengannya sering membuat aku muak. Muak dengan cara bicaranya padaku. Seringkali dia memanggilku dengan nama lain. Dengan nama lain boleh-boleh saja pikirku kala itu, tapi ia semakin membuatku muak saat mulai memanggilku dengan sebutan yang menurutku tak lazim sebagai seorang teman.

Sayang…

Sebutan seperti itu seringkali mampir di layar pesanku. Setelah satu sms darinya tadi pagi tak ku acuhkan. Tak jarang aku  mengkoreksi apa yang telah ia katakan. Tapi kali ini sungguh membuatku muak. Segera ku pencet tombol replay.

Kasihan ya perempuan yang jadi pacarmu…!

Itu Cuma buat teman kok, ga lebih…

Tp aku tetap aja kasihan sm perempuan yg jd pacarmu. Tak peduli itu buat tmn atau apa. Lidah itu brbhaya klo ga dijaga. Entahlah, buatmu mgkn itu hal biasa. Tp tdk bagiku. Tak sembarang org ku ijinkan berucap dmkian memanggilku. Ya pkiranmu bnr, tak bnyk cowok2 dikampus yg berani mndekatiku krn pahamku itu. Tp mau bgmna lg, aku tipe org yg ga bs di ajak main2 dlm  hal perasaan, aku tipe org yg ga senang disamaratakan dg yg lain, aplg disamaratakan oleh org yg ku anggap special. Ktka ia berucap sayang pd yg lain mskipun itu hnya utk teman, tetap aku tak bs terima. Maaf, inilah pendirianku, jd tlg hargai. Hargailah pacarmu. Atau jgn2 pcrmu jg sng mengumbar kta syg pd laki2 lain? Smga tebakanku salah. Maaf skli lagi. Semoga kamu mengerti dg apa yg aku smpaikan.

Iya Mi, sm pcrku gk blh gtu sbnrnya… maaf ya, aku brcnda kq…

Ya sdhlah, semua org menurutku berhak mndpatkan kesempatan kedua, tp bnyk org yg tak brsyukur dan mmanfaatkan kesempatan yg diberikan pdnya. Ini terakhir kalinya aku dengar kata2 sept itu darimu. Lain wktu aku ingin berkenalan dg pacarmu. Siapa namanya? Rahma? Rahmi? Jgn lpa smpaikan salamku pdnya. Semoga hubungan kalian baik2 selalu…

Pacarku namanya Rahma, Rahmi itu kembarannya. Aku dah pacaran slma 27 bln. Do’ain aja cepat ke pelaminan ya…

Aku tak lagi menggubris pesannya. Ah, dasar laki-laki genit. Sekarang terbongkar sudah kedoknya. Tanpa kutanya dengan serius pun dia punya pacar atau tidak. Sebelumnya dia selalu bilang kalau dia itu  masih jomblo kepadaku. Entah itu sebagai sarana informasi atau bahkan mungkin sebagai sarana promosi. Apa peduliku. Aku tidak menyukai tipe laki-laki seperti dia. Dan satu lagi nama pacarnya Rahma?? Aku tidak menyangka tebakan nama yang ku ajukan itu ternyata benar. Aku sungguh tidak tau sebelumnya nama perempuan yang jadi pacarnya adalah Rahma. Satu lagi aku bersyukur, aku tidak sampai masuk pada jeratan kata-kata gombalnya.

Sebuah pesan lagi ku upaya kan membalasnya. Dari nomor yang tak ku kenal. Belakangan ku ketahui ia adalah Afdhal, mahasiswa semester satu program studi Hukum Perdata Islam yang ku kenal karena satu Firqah saat Ospek yang selanjutnya disebut dengan nama "Marhaban". Sebuah sapaan pengantar malam yang sangat sederhana.

Selamat malam kawan…

Selamat malam, spa ya?

Ni Afdhal Mi. kok nanya terus sih kalo aku sms. No ku ga di smpan y?

Afdhal? msh pake katanya ini nomer pcrnya ya? Ngpain nympan no cwe org kan. Hehe, sori ya.

Iya. Cwe ku msih d Pasaman Mi. Smntara ni aku yg pake no dia.

Di Pasaman? Ngpain ? ga kuliah dia?

Dia blm kul Mi…

Cieee, pcrn sm anak SMA yah?

Bukan Mi, dia anak Pesantren. Aku kurang yakin sama anak SMA.

Kurang yakin kenapa? emang Afdhal dari pesantren ya ?

Iya. Kita sm2 dr Pesantren. Anak SMA itu ga tau halal dan haram Mi.

Aku mendiamkan pesannya untuk sesaat. Memikirkan sejenak balasan yang pas untuknya.

Bukannya ga tau antara halal dan haram Dhal. Mereka pasti tau, hnya saja tidak begitu dipahami dalam kesehariannya…

Aku mencoba membela para remaja atas nama anak SMA yang di anggap tidak ‘meyakinkan’ oleh seorang Afdhal. Bukan karena aku berasal dari komunitas yang sama, aku tamatan Sekolah Menengah Kejuruan di kota Serambi Mekah Padang Panjang. Yang meskipun sekolahnya di harapkan bernuansa Islami, tapi selama disana ku pikir tidak begitu beda dengan sekolah-sekolah lain yang memang komunitas remaja kini tidak begitu memahami pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang disyariatkan oleh Islam. Semua telah bercampur. Tak jarang, siswa-siswi yang pacaran pun tentu biasa dijumpai disekolah-sekolah. Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran para siswa dalam menjalankan syariat dan tata pergaulan yang seharusnya sesuai keyakinan pada agama mereka masing-masing. Dengan dalih “Zaman sekarang itu beda dengan Zaman dulu Mi” begitu ungkapan seorang teman yang dulu memberi pendapat atas diskusiku sewaktu masih di Sekolah Menengah dulu. Begitu juga malam ini. Sebuah pesan lanjutan ku layangkan pada Afdhal atas pembelaanku untuk anak-anak SMA ini.

Tp banyakkan mereka emang begitu Mi. Ga jls mau halal, mau haram, ‘hantam’ saja…

Sedikit tersenyum aku balas pesannya dengan nada yang tak kalah menyudutkan darinya..

Hmmm, jd mnurut Afdhal anak SMA tu bgtu ya?? lalu bgmana dg Afdhal sendiri yg memiliki background Pesantren tp tetap mnjalin hubungan yg Afdhal tau psti kalo pacaran itu tdk ada di ajarkan dlm agama kita. melainkan itu adalah ajaran Kaum Yahudi utk mghancurkan akidah pemuda-pemudi Islam. Mhon penjelasan!!

Dilihat dari zaman sekarang, klo cuma berjalan berdua harus bgmn lg. ga mgkinlah pcran yg tak pernah ktmu. lgpla klo Afdhal pacaran bkn utk permainan tp utk serius...

sudahlah Afdhal, itu hanya sebuah pembenaran dr Afdhal yg sbnarnya udh tau kalo yg Afdhal jalani itu jls salah. Mau serius atau enggak, tetap aja pacaran tu ya ga ada istilahnya dlm agama kita. kalo emang Afdhal tu laki-laki dan mengerti dg ajaran agama, aplgi td katanya pacarannya serius, knp ga nikahin aja gadis itu sekalian, biar hubungan kalian memperoleh berkah dr Allah.

Hening sejenak, tak ada jawaban darinya. ku pikir dia sudah kalah 1-0 dariku. aku tersenyum puas mematahkan argumentnya terhadap anak SMA yang katanya 'Kurang Meyakinan' itu setelah menerima balasan singkat.
 
pendapat Mi bagus juga...

 

Selasa, 10 Januari 2012

Ikrar Perubahan

Siang nanti akan diadakan sebuah ujian untuk kelasku. Mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar. Usai kelas Vocab, beberapa mahasiswa sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang berlari menuju kantin, toilet, sebagian ke perpustakaan, sebagian lainnya menuju tempat parkir mengambil motor mereka dan melaju entah kemana tanpa sempat aku menanyainya satu persatu.


Aku memutuskan kembali ke kosan, dan sahabat-sahabatku yang lain pun demikian. Kurang lebih lima jam lagi ujian untuk kelasku akan di mulai. Ku baca kembali materi pelajaran yang sempat ku catat sewaktu dosen IAD, Ilmu Alamiah Dasar, menjabarkan materinya didepan ruangan kelas. Tulisan tangan yang semraut karena kecepatan saat mencatat kata perkata yang di lontarkan oleh dosen itu sukses membuatku tertidur karena posisi belajar yang kupilih pun mendukung, bersandar di kasur empuk kamar kos ku. Rasa lapar kemudian membangunkanku. Ku lirik jam tangan yang masih melekat erat di lengan kananku. Seorang kakak kos menilai aku terlihat sombong dengan menggunakan jam tangan seperti itu. Tapi aku tak peduli penilaiannya terhadapku.

“yang jelas kan kenyataannya ga kayak gitu kak, lagian biar aja orang mikirnya gitu. Salah sendiri ngapain su’udzon sama aku.” Jawabku menyangkal penilaiannya terhadapku saat itu.


Pukul dua belas kurang sepuluh menit. Aku bangkit dari tidur dan menyelesaikan makan siang . tak lama kemudian adzan Zuhur berkumandang. Cuaca hari ini terasa panas. Usai mandi dan menunaikan sholat Zuhur, ini adalah kali kedua aku mandi pada hari ini, aku bersiap kembali ke kampus.

Satu jam lagi ujian akan dimulai. Persiapanku untuk kali ini cukup bagus ku rasa. Dengan langkah santai, aku berjalan menuju kampus yang tak jauh dari tempat tinggalku. Hanya menghabiskan waktu 10 menit berjalan kaki. Tapi cuaca yang panas kali ini membuatku merasakan ternyata kos-kosan yang ku pilih ini cukup jauh. Aku sedikit mempercepat langkah setelah sampai di depan Gedung Putih, Akama, Kantor tempat pengurusan segala keperluan civitas akademika. Tujuanku adalah gedung K berlantai lima. Kali ini kelas untuk ujian berada di lantai satu nomor delapan yang berarti aku harus menuruni sekitar 40 anak tangga menuju ruang ujian karena gedung kuliah yang satu ini dibangun dengan dua lantai dasar berada dibawah dan lantai ketiga merupakan lantai utama yang selalu dilalui para mahasiswa dan dosen kelantai berapapun tujuan mereka. Aku rasa ini cukup memudahkan bagi mereka-mereka yang seringkali memiliki keperluan di lantai empat dan lima sehingga tak perlu mendaki anak tangga begitu banyak karena belum adanya fasilitas lift pada kampusku ini.


“Hai Ami, tumben cepat ke kampus.” Seorang teman menegurku sesaat setelah sampai di ruang ujian. Vyona, gadis manis asli Batusangkar tamatan sebuah Sekolah Menengah Negeri di Batam yang ku kenal saat wawancara penerimaan mahasiswa baru. Vyona memilih melanjutkan pendidikan di daerah asalnya mengingat biaya kuliah di Batam yang tak sedikit, juga Ijazah yang tak di akui untuk daerah lain, hal itu kudengar saat aku berniat melanjutkan kuliah di Provinsi itu tapi urung karena mendengar berita itu dari seseorang yang ku kenal disana. Mengenai kebenarannya, aku belum bisa memastikan berita tersebut.

“iya nih, semangat ujian soalnya, hehe.” Jawabku sekiranya dan segera mengambil posisi yang ku pandang pas untuk pertempuran kali ini. Sembari menunggu teman-teman yang lain berdatangan, dan dosen penguji pastinya, aku menyempatkan diri berdiskusi dengan beberapa teman untuk menguatkan kembali memoriku tentang pelajaran-pelajaran yang telah ku baca beberapa hari sebelumnya. Para Akhwat kemudian datang. Seorang diantaranya bernama Riani. Dengan tampang murung dan cemasnya mendekatiku memilih posisi persis disampingku.

“Ukh, ana ga sempat belajar full nih. Cuma liat-liat sekilas tadi. Mana catatan ga lengkap. Wah bisa kacau ujian kali ini.” Curhatnya padaku.

“aku turut prihatin.” Ungkapku sedikit mengejek dengan nada serius. Ia hanya mengerlingkan mata mengetahui ejekanku.

“huhuhu… semoga ujian kali ini ga susah-susah amat. Please God, help me.” Menadahkan tangan dan menghapuskan ke wajahnya. Aku hanya tersenyum geli melihat kelakuan akhwat yang satu ini.

Sang penguji kemudian menampakkan wujudnya. Ah, detik-detik menegangkan seperti ini sudah lama sekali tak lagi ku rasakan setelah putus sekolah karena tak langsung melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Soal ujian dibagikan berikut lembar jawaban. Penguji kali ini mempertanyaan kebudayaan bangsa Mesir, Yunani, serta Romawi Kuno dan sumbangan mereka terhadap peradaban dunia. Dilanjutkan beberapa soal lainnya yang kurasa memang tak membelot dari pelajaran yang selama ini kami bahas. Aku merinci jawaban sebisaku. Beberapa soal lain pun demikian. Seorang teman menyikut kaki kiriku. “Bantuin dong, nggak inget tadi yang dibaca.” Tampangnya memelas. Aku jadi kasihan. Aku memperlihatkan lembaran jawaban ujianku padanya. Jarak masing-masing bangku ujian yang tak begitu jauh dikarenakan banyaknya peserta ujian dan kelas tak begitu luas untuk memberikan jarak yang cukup bagus agar tak terjadi adegan contek menyontek antar mahasiswa yang kurang serius pada mata kuliah ini. Puas menyalin jawaban dariku, Riani melemparkan senyum tanda terimakasihnya

“waaaaah, hebat ya soalnya. Bikin sakit kepala” celoteh Rahmi, seorang akhwat lain saat kami telah berkumpul disebuah tongkrongan para mahasiswa yang mereka sebut dengan Bundaran setelah ujian usai.

“iya lho, kelewatan soalnya. Aku aja minta bantuan Ami waktu ngerjain soal terakhir.” Riani menambahkan gambaran betapa sulit ujian yang baru saja kami lalui.

“anti mah masih syukur bisa nyontek Ami, ana pusing sendiri berusaha mengingat-ingat penjelasan Bapak itu waktu nerangin pelajaran.” Protes Zeeta pada Riani yang dia anggap masih beruntung bisa menyalin jawaban ujian dariku.

Ku alihkan pandangan pada Azkya yang hanya senyum-senyum dan sesekali mengangguk saat dimintai pendapat oleh para akhwat yang sibuk membahas soal ujian tadi. Tiada komentar yang meluncur dari bibirnya. Begitu juga aku.

“tapi, berkah ga sih ilmunya kalo ujiannya itu kayak yang barusan? Aku tadi nyontek Ami, nyesel banget. Aku janji, ini ga akan terulang lagi. Lain kali aku pasti ujian sendiri dan menjawab soal dengan baik. Ya, itu janjiku.”

Ucapan Riani kali ini membuatku tertawa.

“Hahaha, biasa aja kali Ri. Namanya juga kepepet. Kalo bisa minta bantuan dan ada yang mau bantu, kenapa nggak?”

Aku sedikit membenarkan perbuatan Riani yang sebenarnya ku tahu itu kebiasaan yang buruk. Sekian lama, contek mencontek saat ujian merupakan hal yang biasa bagiku. Terutama saat aku bisa memberikan jawaban soal ujian yang dianggap sulit dijawab oleh teman-teman, aku dengan senang hati dapat membantu mereka tanpa khawatir prestasi akademiku dikelas selama menempa pendidikan direbut oleh mereka. Tapi kali ini Riani seperti menyadarkan aku tentang satu hal yang penting yang selama ini tak mendapat perhatian khusus dariku. Akhirnya aku hanya bisa menyetujui ikrarnya. Aku ingin membuktikan, seberapa tangguh akhwat yang satu ini.