Ku awali pagi dengan menghadiri pemilihan ketua
HMPS, Himpunan Mahasiswa Program Studi, beserta kepengurusan yang baru. Sesuai
jadwal, tepat pukul sembilan aku telah berada di Auditorium. Belum ada tanda-tanda
acara akan segera dimulai.
“jadi gimana? Calonnya
sekarang tunggal, Arif belum juga daftarin
diri.” Keluh seorang senior perempuan yang merupakan salah satu panitia acara.
“kita tunggu sampai Arif
datang.” Jawab seorang laki-laki diantara mereka. Setahuku dia adalah Ketua
Pelaksana MUHIMA kali ini, dan juga merupakan calon tunggal yang dimaksud.
“tapi syarat waktu
pendaftaran kandidat yang ada pada surat
edaran berakhir tepat jam sembilan.
Sekarang liat jam berapa, udah lebih sepuluh menit.” Kembali ku dengar gadis
yang sama mengungkapkan kekhawatirannya.
“ya udah , kita perpanjang
waktunya sampai tepat setengah sepuluh, kalo Arif belum datang juga, terpaksa
kita mulai acaranya.” Kembali Ketua Pelaksana memberi keputusan. Sepertinya dia
menginginkan pula bertarung dengan Arif dalam pemilihan kali ini.
“dia memang tak mungkin akan mendaftar sebagai calon
pemimpin HMPS berikutnya.” Gumamku dalam hati setelah ku ketahui Arif telah
dipercayakan menjabat sebagai Sekretaris Umum di LDK. Aku sendiri sebenarnya
tidak habis pikir apa alasan Arif tak tertarik menempati posisi Ketua di
HMPS. Apa sih yang dia pikirkan? Jangan bilang dia tidak menginginkan menjabat
sebagai Ketua pada perkumpulan tertinggi Komunitas Mahasiswa Bahasa Inggris di
kampus ini. Ku pikir inilah posisi yang diburu oleh sebagian besar
mahasiswa. Atau dia benar-benar seorang yang tidak ambisius dalam hal jabatan?
Ah, aku tak akan pernah tau apa alasan sebenarnya kalau tidak bertanya langsung
pada orangnya. Tapi bagaimana mungkin aku bisa bertanya padanya, menegurnya
saja aku tak memiliki keberanian. Entah apa sebabnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh
tepat. Sesuai janjinya, sang Ketua Pelaksana kemudian mengajukan memulai acara. Habislah kesempatan Arif untuk tahun ini. Wajah kecewa ku lihat dalam ruangan itu. Aku baru sadar hanya beberapa
orang yang berada didalam Aula yang berkapasitas tujuh ratus orang ini. Tidak
lebih dari empat puluh orang, padahal mahasiswa Bahasa Inggris setahuku
tercatat sekitar delapan ratus orang. Mungkin juga karena pelaksaan sidang yang
diadakan pada minggu-minggu ujian, juga ikut menjadi penyebab tak banyaknya mahasiswa yang menampakkan
diri dalam acara ini, kecuali beberapa mahasiswa yang tak memiliki jadwal
kuliah atau ujian hari ini, dan beberapa mahasiswa dengan loyalitas yang cukup
tinggi pada HMPS TBI.
Acara kemudian di ambil alih oleh Nadia, teman sekelasku
yang bertugas sebagai MC. Satu-persatu susunan acara dibacakan. Nama Riani dipanggil untuk membacakan Al
Qur’an sebagai permulaan agar program kali ini diberi kelancaran dan hasil yang
memuaskan dari awal hingga akhir. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian kata
sambutan dari Ade Alfa selaku Ketua Pelaksana. Sebagai mahasiswa jurusan bahasa, Ade
mencoba kemampuannya berbicara dalam bahasa Inggris, sedikit terpatah-patah,
dan ada beberapa penggunaan tata bahasa yang tak sesuai didalam ucapannya. Tapi
itu satu nilai positif, dia mampu menghilangkan rasa minder atau rasa ketidakmampuannya dalam
berbahasa asing, maka dari itu, semua mahasiswa kupikir tak salah untuk selalu
mempraktekkan berbahasa asing setiap berkomunikasi dengan sesama komunitas
mereka. Karena memang hal ini sangat membantu dalam kelancaran kita
berbicara dalam bahasa asing. Andai saja semua pembalajar bahasa menyadari pentingnya hal itu.
“Ok, I think will be better
if I’m speak in Indonesian…” sang Ketua
Pelaksana terus melanjutkan ucapannya setelah lebih dulu mengusulkan untuk
menggunakan bahasa Indonesia demi kelanjutan sambutannya. Usai bercerita
beberapa menit di podium, disusul Kata
sambutan dari Ketua HMPS lama, acara pembukaan pun memasuki bagian
penutupan, yaitu do’a. Arif belum juga menampakkan diri. Setelah sedikit
diskusi dengan beberapa panitia, akhirnya pembacaan do’a yang seharusnya
menjadi tugas Arif diserahkan pada Rahman. Otakku menyimpan banyak
pertanyaan tentang musyawarah himpunan mahasiswa kali ini. bagaimana bisa pelaksana dalam kegiatan tak
menempati posisinya saat acara telah dimulai. Sungguh aneh, pikirku.
Acara pembukaan telah berakhir, Arif baru saja
memasuki ruangan diikuti beberapa mahasiswa lain. Aku memperhatikannya
sejenak. Riani menepuk lenganku lembut dan mengajak keluar ruangan sembari
menunjuk pada jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas
tepat, artinya ujian untuk mata kuliah Listening akan dimulai lima menit lagi. Dengan
sedikit terpaksa aku beranjak dari tempat duduk semula dan melangkah keluar
ruangan bersama Zeeta, Yuni, dan Nadia menuju labor bahasa yang terletak di
belakang auditorium.
“kok kak Arif baru datang sih?” Tanya Yuni padaku, Riani, dan Zeeta,
sementara Nadia telah melangkah lebih dulu didepan kami. Aku hanya mengangkat
bahu, begitupun Riani dan Zeeta.
“kabarnya
dia ga ikut daftar jadi calon ketua HMPS. Kenapa ya? Padahal dia kan calon yang perfect
sebagai ketua HMPS yang baru.” Riani
bertanya-tanya berikut memberikan pendapatnya.
“yang
aku denger sih dia ga bisa karena dia itu udah diangkat sebagai ketua FSI
kampus.” jawabku
“siapa
yang bilang gitu ukh?”
“ga
tau, aku juga baru denger dari Zakya beberapa hari yang lalu”
“apaan
tuh FSI?” Tanya Yuni padaku dengan wajah
sedikit penasaran.
“Forum Studi Islam kalo ga salah. hehehe…”
Riani kemudian menjelaskan pada Yuni mengenai FSI yang
baru saja kami bicarakan. FSI adalah sebuah perkumpulan himpunan program kerja
masing-masing HMPS dari semua program studi di kampus yang menyangkut pelaksaan
Dakwah Kampus. Arif dipercaya sebagai Ketua dari perkumpulan tersebut.
Masing-masing peserta ujian mulai fokus dan mempersiapkan
diri menjawab soal-soal ujian setelah
lembar jawaban dibagikan Miss Rini, Dosen paling muda di Program Studi Bahasa
Inggris. Karena ini adalah ujian Listening, soal ujian di perdengarkan melalui
sebuah rekaman suara. Semua peserta serius mendengarkannya.
Usai makan siang, kami kembali ke Aula dan mengikuti
jalannya sidang. Sebagai mana yang sudah
ku ketahui, sidang adalah acara yang paling membosankan dan ini adalah
keikutsertaanku yang keempat. Tiga sidang dari organisasi berbeda, ku tinggalkan setelah separuh jalan. Tapi kali ini aku bertahan didalam ruangan. Menikmati kehadiran Arif didalam acara ini.
Memasuki Pleno kedua dengan agenda pembacaan LPJ dari
kepengurusan yang lama, beberapa pertanyaan dihadapkan peserta sidang pada
ketua HMPS yang dianggap tidak menjalankan tugas dengan baik. Satu-persatu
pertanyaan ia tanggapi dengan sabar dan dijawab semampunya. tak seperti sidang pleno yang pertama, aku hanya diam menyaksikan
semua itu. ku pikir tanpa berkomentarpun mengenai LPJ –LPJ yang dipertanyakan
oleh peserta sidang lainnya, rasanya suaraku sudah cukup terwakilkan oleh
mereka.
Akhirnya seorang mahasiswa senior yang pernah menjabat
Ketua HMPS periode sebelumnya mengetengahi perdebatan itu. Meminta pengakuan
dan permohonan maaf dari Ketua HMPS lama kepada para peserta sidang atas
kelalaiannya dalam memimpin, dan ia juga meminta peserta sidang tidak
semena-mena menyalahkan ketua yang tak membangun komunikasi dengan
bawahan-bawahannya sehingga banyak program kerja yang tersusun untuknya tidak
terlaksana sebagaimana mestinya.
Sidang Pleno dua diakhiri dengan mengesahkan lembaran LPJ
dari Kepengurusan lama dengan beberapa syarat dari peserta sidang yang sudah disepakati. Seluruh peserta sidang
membubarkan diri. Aku berjalan seorang diri menuju gerbang kampus mengarah pulang. Seorang mahasiswa berjalan persis di belakangku…
“ehhmm, aktivis ya?” Sapanya setelah langkah kami
sejajar. Entah atas dasar apa dia menebak seperti itu. Aku hanya tersenyum
menanggapi pertanyaan Ridho Irawan, Ketua HMPS lama yang tadi diserbu
pertanyaan dari peserta sidang.
“masuk organisasi apa?” lanjutnya.
“LDK sama UKM BKM kak.” jawabku singkat.
“tadi di ruang sidang kenapa diam aja? kok ga ikut
bersuara seperti yang lainnya?”
“pada sidang satu aja udah cukup menyuarakan pendapat kok
kak.” kembali ku jawab pertanyaannya seperlunya. "aku cukup kasian saat beberapa peserta sidang melemparkan banyak pertanyaan yang menyudutkanmu. Jadi kalau aku ikut-ikutan menambah pertanyaan, kasian kamu nya kak." simpanku dalam hati.
Kami terus melangkah sampai pada persimpangan
menuju kosku. Seorang senior kemudian menghampiri kami. Ridho kemudian
menaiki motornya sembari tersenyum pertanda mohon dirinya. Aku membalas dengan
senyum yang sama. Seringkali setiap perjalanan pulang aku melihatnya mengendarai
motor dengan arah yang sama. Tapi aku memang tak pernah menegurnya. Begitupula ia
yang menurut pengakuannya memang adalah tipe orang yang tak berani menegur
orang yang belum dikenal terlebih dahulu, tapi kali ini dia seperti ingin
merubah ketidakberaniannya yang merugikan dirinya itu hingga menyebabkan dia
selalu mengalami kesulitan berkomunikasi dengan para perangkat kepengurusan
periode jabatannya. Semoga ia berhasil, do’aku.
Sidang
hari kedua memasuki agenda Pleno ketiga dan
pembagian anggota komisi dimulai dengan menghitung dari A sampai C
menurut kursi yang kami tempati. Masing-masing komisi membicarakan hal yang
berbeda. Untuk
komisi A, dimulai dengan mengusulkan struktur kepengurusan yang baru beserta program kerjanya. Pembahasan AD/ART menjadi
tugas Komisi B dan aku bersama anggota komisi C lainnya kebagian tugas
memberikan beberapa rekomendasi tambahan kegiatan untuk program kerja
kepengurusan berikutnya. Sayang sekali, aku tak menempati komisi yang sama
dengan Arif. Usai memberikan beberapa rekomendasi, mataku tak lepas memandangi sosoknya yang
tengah serius dengan pembahasannya bersama anggota komisi A lainnya.