Siang nanti akan diadakan sebuah ujian untuk kelasku. Mata kuliah Ilmu
Alamiah Dasar. Usai kelas Vocab, beberapa mahasiswa sibuk dengan urusan
masing-masing. Ada yang berlari menuju kantin, toilet, sebagian ke
perpustakaan, sebagian lainnya menuju tempat parkir mengambil motor
mereka dan melaju entah kemana tanpa sempat aku menanyainya satu
persatu.
Aku memutuskan kembali ke kosan, dan sahabat-sahabatku yang lain pun
demikian. Kurang lebih lima jam lagi ujian untuk kelasku akan di mulai.
Ku baca kembali materi pelajaran yang sempat ku catat sewaktu dosen IAD,
Ilmu Alamiah Dasar, menjabarkan materinya didepan ruangan kelas.
Tulisan tangan yang semraut karena kecepatan saat mencatat kata perkata
yang di lontarkan oleh dosen itu sukses membuatku tertidur karena posisi
belajar yang kupilih pun mendukung, bersandar di kasur empuk kamar kos
ku. Rasa lapar kemudian membangunkanku. Ku lirik jam tangan yang masih
melekat erat di lengan kananku. Seorang kakak kos menilai aku terlihat
sombong dengan menggunakan jam tangan seperti itu. Tapi aku tak peduli
penilaiannya terhadapku.
“yang jelas kan kenyataannya ga kayak gitu kak, lagian biar aja orang
mikirnya gitu. Salah sendiri ngapain su’udzon sama aku.” Jawabku
menyangkal penilaiannya terhadapku saat itu.
Pukul dua belas kurang sepuluh menit. Aku bangkit dari tidur dan
menyelesaikan makan siang . tak lama kemudian adzan Zuhur berkumandang.
Cuaca hari ini terasa panas. Usai mandi dan menunaikan sholat Zuhur, ini
adalah kali kedua aku mandi pada hari ini, aku bersiap kembali ke
kampus.
Satu jam lagi ujian akan dimulai.
Persiapanku untuk kali ini cukup bagus ku rasa. Dengan langkah santai,
aku berjalan menuju kampus yang tak jauh dari tempat tinggalku. Hanya
menghabiskan waktu 10 menit berjalan kaki. Tapi cuaca yang panas kali
ini membuatku merasakan ternyata kos-kosan yang ku pilih ini cukup jauh.
Aku sedikit mempercepat langkah setelah sampai di depan Gedung Putih,
Akama, Kantor tempat pengurusan segala keperluan civitas akademika.
Tujuanku adalah gedung K berlantai lima. Kali ini kelas untuk ujian
berada di lantai satu nomor delapan yang berarti aku harus menuruni
sekitar 40 anak tangga menuju ruang ujian karena gedung kuliah yang satu
ini dibangun dengan dua lantai dasar berada dibawah dan lantai ketiga
merupakan lantai utama yang selalu dilalui para mahasiswa dan dosen
kelantai berapapun tujuan mereka. Aku rasa ini cukup memudahkan bagi
mereka-mereka yang seringkali memiliki keperluan di lantai empat dan
lima sehingga tak perlu mendaki anak tangga begitu banyak karena belum
adanya fasilitas lift pada kampusku ini.
“Hai Ami, tumben cepat ke kampus.” Seorang teman menegurku sesaat
setelah sampai di ruang ujian. Vyona, gadis manis asli Batusangkar
tamatan sebuah Sekolah Menengah Negeri di Batam yang ku kenal saat
wawancara penerimaan mahasiswa baru. Vyona memilih melanjutkan
pendidikan di daerah asalnya mengingat biaya kuliah di Batam yang tak
sedikit, juga Ijazah yang tak di akui untuk daerah lain, hal itu
kudengar saat aku berniat melanjutkan kuliah di Provinsi itu tapi urung
karena mendengar berita itu dari seseorang yang ku kenal disana.
Mengenai kebenarannya, aku belum bisa memastikan berita tersebut.
“iya nih, semangat ujian soalnya, hehe.” Jawabku sekiranya dan segera
mengambil posisi yang ku pandang pas untuk pertempuran kali ini. Sembari
menunggu teman-teman yang lain berdatangan, dan dosen penguji pastinya,
aku menyempatkan diri berdiskusi dengan beberapa teman untuk menguatkan
kembali memoriku tentang pelajaran-pelajaran yang telah ku baca
beberapa hari sebelumnya. Para Akhwat kemudian datang. Seorang
diantaranya bernama Riani. Dengan tampang murung dan cemasnya
mendekatiku memilih posisi persis disampingku.
“Ukh, ana ga sempat belajar full nih. Cuma liat-liat sekilas tadi. Mana
catatan ga lengkap. Wah bisa kacau ujian kali ini.” Curhatnya padaku.
“aku turut prihatin.” Ungkapku sedikit mengejek dengan nada serius. Ia hanya mengerlingkan mata mengetahui ejekanku.
“huhuhu… semoga ujian kali ini ga susah-susah amat. Please God, help
me.” Menadahkan tangan dan menghapuskan ke wajahnya. Aku hanya tersenyum
geli melihat kelakuan akhwat yang satu ini.
Sang penguji kemudian menampakkan wujudnya. Ah, detik-detik menegangkan
seperti ini sudah lama sekali tak lagi ku rasakan setelah putus sekolah
karena tak langsung melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Soal ujian
dibagikan berikut lembar jawaban. Penguji kali ini mempertanyaan
kebudayaan bangsa Mesir, Yunani, serta Romawi Kuno dan sumbangan mereka
terhadap peradaban dunia. Dilanjutkan beberapa soal lainnya yang kurasa
memang tak membelot dari pelajaran yang selama ini kami bahas. Aku
merinci jawaban sebisaku. Beberapa soal lain pun demikian. Seorang teman
menyikut kaki kiriku.
“Bantuin dong, nggak inget tadi yang dibaca.” Tampangnya memelas. Aku
jadi kasihan. Aku memperlihatkan lembaran jawaban ujianku padanya. Jarak
masing-masing bangku ujian yang tak begitu jauh dikarenakan banyaknya
peserta ujian dan kelas tak begitu luas untuk memberikan jarak yang
cukup bagus agar tak terjadi adegan contek menyontek antar mahasiswa
yang kurang serius pada mata kuliah ini. Puas menyalin jawaban dariku,
Riani melemparkan senyum tanda terimakasihnya
“waaaaah, hebat ya soalnya. Bikin sakit kepala” celoteh Rahmi, seorang
akhwat lain saat kami telah berkumpul disebuah tongkrongan para
mahasiswa yang mereka sebut dengan Bundaran setelah ujian usai.
“iya lho, kelewatan soalnya. Aku aja minta bantuan Ami waktu ngerjain
soal terakhir.” Riani menambahkan gambaran betapa sulit ujian yang baru
saja kami lalui.
“anti mah masih syukur bisa nyontek Ami, ana pusing sendiri berusaha
mengingat-ingat penjelasan Bapak itu waktu nerangin pelajaran.” Protes
Zeeta pada Riani yang dia anggap masih beruntung bisa menyalin jawaban
ujian dariku.
Ku alihkan pandangan pada Azkya yang hanya senyum-senyum dan sesekali
mengangguk saat dimintai pendapat oleh para akhwat yang sibuk membahas
soal ujian tadi. Tiada komentar yang meluncur dari bibirnya. Begitu juga
aku.
“tapi, berkah ga sih ilmunya kalo ujiannya itu kayak yang barusan? Aku
tadi nyontek Ami, nyesel banget. Aku janji, ini ga akan terulang lagi.
Lain kali aku pasti ujian sendiri dan menjawab soal dengan baik. Ya, itu
janjiku.”
Ucapan Riani kali ini membuatku tertawa.
“Hahaha, biasa aja kali Ri. Namanya juga kepepet. Kalo bisa minta bantuan dan ada yang mau bantu, kenapa nggak?”
Aku sedikit membenarkan perbuatan Riani yang sebenarnya ku tahu itu
kebiasaan yang buruk. Sekian lama, contek mencontek saat ujian merupakan
hal yang biasa bagiku. Terutama saat aku bisa memberikan jawaban soal
ujian yang dianggap sulit dijawab oleh teman-teman, aku dengan senang
hati dapat membantu mereka tanpa khawatir prestasi akademiku dikelas
selama menempa pendidikan direbut oleh mereka. Tapi kali ini Riani
seperti menyadarkan aku tentang satu hal yang penting yang selama ini
tak mendapat perhatian khusus dariku. Akhirnya aku hanya bisa menyetujui
ikrarnya. Aku ingin membuktikan, seberapa tangguh akhwat yang satu ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar