Rabu, 11 Januari 2012

Rayuan dan Pembenaran



Besok adalah ujian terakhir untuk semester pertamaku disini. Ujian Mata Kuliah Listening. Tak ada bahan yang perlu dibaca ulang karena ini adalah Mata Kuliah untuk menguji kemampuan mendengar bahasa asing yang diperdengarkan untuk setiap mahasiswa. Malam ini kuhabiskan dengan mengobrol-ngobrol dengan beberapa teman sekamar. Kemudian pandanganku beralih memperhatikan layar handphone yang tergeletak tak berdaya disampingku. Aku mengacuhkannya sejak waktu sholat magrib menyapa bumi. Ku raih ia kali ini. Tiga pesan singkat mengundangku membaca. Ku buka yang pertama masuk terlebih dahulu. Dari Dedy. Seorang teman yang ku kenal perantara nomor handphone yang nyasar pada seorang temanku kala itu. Untuk memperluas jaringan pertemanan, aku tak menolaknya untuk sesekali  mengobrol denganku. Meski berbincang dengannya sering membuat aku muak. Muak dengan cara bicaranya padaku. Seringkali dia memanggilku dengan nama lain. Dengan nama lain boleh-boleh saja pikirku kala itu, tapi ia semakin membuatku muak saat mulai memanggilku dengan sebutan yang menurutku tak lazim sebagai seorang teman.

Sayang…

Sebutan seperti itu seringkali mampir di layar pesanku. Setelah satu sms darinya tadi pagi tak ku acuhkan. Tak jarang aku  mengkoreksi apa yang telah ia katakan. Tapi kali ini sungguh membuatku muak. Segera ku pencet tombol replay.

Kasihan ya perempuan yang jadi pacarmu…!

Itu Cuma buat teman kok, ga lebih…

Tp aku tetap aja kasihan sm perempuan yg jd pacarmu. Tak peduli itu buat tmn atau apa. Lidah itu brbhaya klo ga dijaga. Entahlah, buatmu mgkn itu hal biasa. Tp tdk bagiku. Tak sembarang org ku ijinkan berucap dmkian memanggilku. Ya pkiranmu bnr, tak bnyk cowok2 dikampus yg berani mndekatiku krn pahamku itu. Tp mau bgmna lg, aku tipe org yg ga bs di ajak main2 dlm  hal perasaan, aku tipe org yg ga senang disamaratakan dg yg lain, aplg disamaratakan oleh org yg ku anggap special. Ktka ia berucap sayang pd yg lain mskipun itu hnya utk teman, tetap aku tak bs terima. Maaf, inilah pendirianku, jd tlg hargai. Hargailah pacarmu. Atau jgn2 pcrmu jg sng mengumbar kta syg pd laki2 lain? Smga tebakanku salah. Maaf skli lagi. Semoga kamu mengerti dg apa yg aku smpaikan.

Iya Mi, sm pcrku gk blh gtu sbnrnya… maaf ya, aku brcnda kq…

Ya sdhlah, semua org menurutku berhak mndpatkan kesempatan kedua, tp bnyk org yg tak brsyukur dan mmanfaatkan kesempatan yg diberikan pdnya. Ini terakhir kalinya aku dengar kata2 sept itu darimu. Lain wktu aku ingin berkenalan dg pacarmu. Siapa namanya? Rahma? Rahmi? Jgn lpa smpaikan salamku pdnya. Semoga hubungan kalian baik2 selalu…

Pacarku namanya Rahma, Rahmi itu kembarannya. Aku dah pacaran slma 27 bln. Do’ain aja cepat ke pelaminan ya…

Aku tak lagi menggubris pesannya. Ah, dasar laki-laki genit. Sekarang terbongkar sudah kedoknya. Tanpa kutanya dengan serius pun dia punya pacar atau tidak. Sebelumnya dia selalu bilang kalau dia itu  masih jomblo kepadaku. Entah itu sebagai sarana informasi atau bahkan mungkin sebagai sarana promosi. Apa peduliku. Aku tidak menyukai tipe laki-laki seperti dia. Dan satu lagi nama pacarnya Rahma?? Aku tidak menyangka tebakan nama yang ku ajukan itu ternyata benar. Aku sungguh tidak tau sebelumnya nama perempuan yang jadi pacarnya adalah Rahma. Satu lagi aku bersyukur, aku tidak sampai masuk pada jeratan kata-kata gombalnya.

Sebuah pesan lagi ku upaya kan membalasnya. Dari nomor yang tak ku kenal. Belakangan ku ketahui ia adalah Afdhal, mahasiswa semester satu program studi Hukum Perdata Islam yang ku kenal karena satu Firqah saat Ospek yang selanjutnya disebut dengan nama "Marhaban". Sebuah sapaan pengantar malam yang sangat sederhana.

Selamat malam kawan…

Selamat malam, spa ya?

Ni Afdhal Mi. kok nanya terus sih kalo aku sms. No ku ga di smpan y?

Afdhal? msh pake katanya ini nomer pcrnya ya? Ngpain nympan no cwe org kan. Hehe, sori ya.

Iya. Cwe ku msih d Pasaman Mi. Smntara ni aku yg pake no dia.

Di Pasaman? Ngpain ? ga kuliah dia?

Dia blm kul Mi…

Cieee, pcrn sm anak SMA yah?

Bukan Mi, dia anak Pesantren. Aku kurang yakin sama anak SMA.

Kurang yakin kenapa? emang Afdhal dari pesantren ya ?

Iya. Kita sm2 dr Pesantren. Anak SMA itu ga tau halal dan haram Mi.

Aku mendiamkan pesannya untuk sesaat. Memikirkan sejenak balasan yang pas untuknya.

Bukannya ga tau antara halal dan haram Dhal. Mereka pasti tau, hnya saja tidak begitu dipahami dalam kesehariannya…

Aku mencoba membela para remaja atas nama anak SMA yang di anggap tidak ‘meyakinkan’ oleh seorang Afdhal. Bukan karena aku berasal dari komunitas yang sama, aku tamatan Sekolah Menengah Kejuruan di kota Serambi Mekah Padang Panjang. Yang meskipun sekolahnya di harapkan bernuansa Islami, tapi selama disana ku pikir tidak begitu beda dengan sekolah-sekolah lain yang memang komunitas remaja kini tidak begitu memahami pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang disyariatkan oleh Islam. Semua telah bercampur. Tak jarang, siswa-siswi yang pacaran pun tentu biasa dijumpai disekolah-sekolah. Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran para siswa dalam menjalankan syariat dan tata pergaulan yang seharusnya sesuai keyakinan pada agama mereka masing-masing. Dengan dalih “Zaman sekarang itu beda dengan Zaman dulu Mi” begitu ungkapan seorang teman yang dulu memberi pendapat atas diskusiku sewaktu masih di Sekolah Menengah dulu. Begitu juga malam ini. Sebuah pesan lanjutan ku layangkan pada Afdhal atas pembelaanku untuk anak-anak SMA ini.

Tp banyakkan mereka emang begitu Mi. Ga jls mau halal, mau haram, ‘hantam’ saja…

Sedikit tersenyum aku balas pesannya dengan nada yang tak kalah menyudutkan darinya..

Hmmm, jd mnurut Afdhal anak SMA tu bgtu ya?? lalu bgmana dg Afdhal sendiri yg memiliki background Pesantren tp tetap mnjalin hubungan yg Afdhal tau psti kalo pacaran itu tdk ada di ajarkan dlm agama kita. melainkan itu adalah ajaran Kaum Yahudi utk mghancurkan akidah pemuda-pemudi Islam. Mhon penjelasan!!

Dilihat dari zaman sekarang, klo cuma berjalan berdua harus bgmn lg. ga mgkinlah pcran yg tak pernah ktmu. lgpla klo Afdhal pacaran bkn utk permainan tp utk serius...

sudahlah Afdhal, itu hanya sebuah pembenaran dr Afdhal yg sbnarnya udh tau kalo yg Afdhal jalani itu jls salah. Mau serius atau enggak, tetap aja pacaran tu ya ga ada istilahnya dlm agama kita. kalo emang Afdhal tu laki-laki dan mengerti dg ajaran agama, aplgi td katanya pacarannya serius, knp ga nikahin aja gadis itu sekalian, biar hubungan kalian memperoleh berkah dr Allah.

Hening sejenak, tak ada jawaban darinya. ku pikir dia sudah kalah 1-0 dariku. aku tersenyum puas mematahkan argumentnya terhadap anak SMA yang katanya 'Kurang Meyakinan' itu setelah menerima balasan singkat.
 
pendapat Mi bagus juga...

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar