Rabu, 11 Januari 2012

MUHIMA

Ku  awali pagi dengan menghadiri pemilihan ketua HMPS, Himpunan Mahasiswa Program Studi, beserta kepengurusan yang baru. Sesuai jadwal, tepat pukul sembilan aku telah berada di Auditorium. Belum ada tanda-tanda acara akan segera dimulai.

“jadi gimana? Calonnya sekarang tunggal, Arif  belum juga daftarin diri.” Keluh seorang senior perempuan yang merupakan salah satu panitia acara.

“kita tunggu sampai Arif datang.” Jawab seorang laki-laki diantara mereka. Setahuku dia adalah Ketua Pelaksana MUHIMA kali ini, dan juga merupakan calon tunggal yang dimaksud.

“tapi syarat waktu pendaftaran kandidat yang ada pada surat edaran berakhir  tepat jam sembilan. Sekarang liat jam berapa, udah lebih sepuluh menit.” Kembali ku dengar gadis yang sama mengungkapkan kekhawatirannya.

“ya udah , kita perpanjang waktunya sampai tepat setengah sepuluh, kalo Arif belum datang juga, terpaksa kita mulai acaranya.” Kembali Ketua Pelaksana memberi keputusan. Sepertinya dia menginginkan pula bertarung dengan Arif dalam pemilihan kali ini.

            “dia memang tak mungkin akan mendaftar sebagai calon pemimpin HMPS berikutnya.” Gumamku dalam hati setelah ku ketahui Arif telah dipercayakan menjabat sebagai Sekretaris Umum di LDK. Aku sendiri sebenarnya tidak habis pikir apa alasan Arif tak tertarik menempati posisi Ketua di HMPS. Apa sih yang dia pikirkan? Jangan bilang dia tidak menginginkan menjabat sebagai Ketua pada perkumpulan tertinggi Komunitas Mahasiswa Bahasa Inggris di kampus ini. Ku pikir inilah posisi yang diburu oleh sebagian besar mahasiswa. Atau dia benar-benar seorang yang tidak ambisius dalam hal jabatan? Ah, aku tak akan pernah tau apa alasan sebenarnya kalau tidak bertanya langsung pada orangnya. Tapi bagaimana mungkin aku bisa bertanya padanya, menegurnya saja aku tak memiliki keberanian. Entah apa sebabnya.

            Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh tepat. Sesuai janjinya, sang Ketua Pelaksana kemudian mengajukan memulai acara. Habislah kesempatan Arif untuk tahun ini. Wajah kecewa ku lihat dalam ruangan itu. Aku baru sadar hanya beberapa orang yang berada didalam Aula yang berkapasitas tujuh ratus orang ini. Tidak lebih dari empat puluh orang, padahal mahasiswa Bahasa Inggris setahuku tercatat sekitar delapan ratus orang. Mungkin juga karena pelaksaan sidang yang diadakan pada minggu-minggu ujian, juga ikut menjadi penyebab tak banyaknya mahasiswa yang menampakkan diri dalam acara ini, kecuali beberapa mahasiswa yang tak memiliki jadwal kuliah atau ujian hari ini, dan beberapa mahasiswa dengan loyalitas yang cukup tinggi pada HMPS TBI.

            Acara kemudian di ambil alih oleh Nadia, teman sekelasku yang bertugas sebagai MC. Satu-persatu susunan acara dibacakan. Nama Riani dipanggil untuk membacakan Al Qur’an sebagai permulaan agar program kali ini diberi kelancaran dan hasil yang memuaskan dari awal hingga akhir. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian kata sambutan dari Ade Alfa selaku Ketua Pelaksana. Sebagai mahasiswa jurusan bahasa, Ade mencoba kemampuannya berbicara dalam bahasa Inggris, sedikit terpatah-patah, dan ada beberapa penggunaan tata bahasa yang tak sesuai didalam ucapannya. Tapi itu satu nilai positif, dia mampu menghilangkan rasa  minder atau rasa ketidakmampuannya dalam berbahasa asing, maka dari itu, semua mahasiswa kupikir tak salah untuk selalu mempraktekkan berbahasa asing setiap berkomunikasi dengan sesama komunitas mereka. Karena memang hal ini sangat membantu dalam kelancaran kita berbicara dalam bahasa asing. Andai saja semua pembalajar bahasa menyadari pentingnya hal itu.

“Ok, I think will be better if I’m speak in Indonesian…”  sang Ketua Pelaksana terus melanjutkan ucapannya setelah lebih dulu mengusulkan untuk menggunakan bahasa Indonesia demi kelanjutan sambutannya. Usai bercerita beberapa menit di podium,  disusul Kata sambutan dari Ketua HMPS lama, acara pembukaan pun memasuki bagian penutupan, yaitu do’a. Arif belum juga menampakkan diri. Setelah sedikit diskusi dengan beberapa panitia, akhirnya pembacaan do’a yang seharusnya menjadi tugas Arif diserahkan pada Rahman. Otakku menyimpan banyak pertanyaan tentang musyawarah himpunan mahasiswa kali ini. bagaimana bisa pelaksana dalam kegiatan tak menempati posisinya saat acara telah dimulai. Sungguh aneh, pikirku.

            Acara pembukaan telah berakhir, Arif baru saja memasuki ruangan diikuti beberapa mahasiswa lain. Aku memperhatikannya sejenak. Riani menepuk lenganku lembut dan mengajak keluar ruangan sembari menunjuk pada jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas tepat, artinya ujian untuk mata kuliah Listening akan dimulai lima menit lagi. Dengan sedikit terpaksa aku beranjak dari tempat duduk semula dan melangkah keluar ruangan bersama Zeeta, Yuni, dan Nadia menuju labor bahasa yang terletak di belakang auditorium.

            “kok kak Arif baru datang sih?”  Tanya Yuni padaku, Riani, dan Zeeta, sementara Nadia telah melangkah lebih dulu didepan kami. Aku hanya mengangkat bahu, begitupun Riani dan Zeeta.

“kabarnya dia ga ikut daftar jadi calon ketua HMPS. Kenapa ya? Padahal dia kan calon yang perfect sebagai ketua HMPS yang baru.”  Riani bertanya-tanya berikut memberikan pendapatnya.

“yang aku denger sih dia ga bisa karena dia itu udah diangkat sebagai ketua FSI kampus.” jawabku

“siapa yang bilang gitu ukh?”

“ga tau, aku juga baru denger dari Zakya beberapa hari yang lalu”

“apaan tuh FSI?”  Tanya Yuni padaku dengan wajah sedikit penasaran.

            “Forum Studi Islam kalo ga salah. hehehe…”

            Riani kemudian menjelaskan pada Yuni mengenai FSI yang baru saja kami bicarakan. FSI adalah sebuah perkumpulan himpunan program kerja masing-masing HMPS dari semua program studi di kampus yang menyangkut pelaksaan Dakwah Kampus. Arif dipercaya sebagai Ketua dari perkumpulan tersebut.

            Masing-masing peserta ujian mulai fokus dan mempersiapkan diri menjawab soal-soal  ujian setelah lembar jawaban dibagikan Miss Rini, Dosen paling muda di Program Studi Bahasa Inggris. Karena ini adalah ujian Listening, soal ujian di perdengarkan melalui sebuah rekaman suara. Semua peserta serius mendengarkannya.

            Usai makan siang, kami kembali ke Aula dan mengikuti jalannya sidang.  Sebagai mana yang sudah ku ketahui, sidang adalah acara yang paling membosankan dan ini adalah keikutsertaanku yang keempat. Tiga sidang dari organisasi berbeda, ku tinggalkan setelah separuh jalan.  Tapi kali ini aku bertahan didalam ruangan. Menikmati kehadiran Arif didalam acara ini.

            Memasuki Pleno kedua dengan agenda pembacaan LPJ dari kepengurusan yang lama, beberapa pertanyaan dihadapkan peserta sidang pada ketua HMPS yang dianggap tidak menjalankan tugas dengan baik. Satu-persatu pertanyaan ia tanggapi dengan sabar dan dijawab semampunya. tak seperti sidang pleno yang pertama, aku hanya diam menyaksikan semua itu. ku pikir tanpa berkomentarpun mengenai LPJ –LPJ yang dipertanyakan oleh peserta sidang lainnya, rasanya suaraku sudah cukup terwakilkan oleh mereka.

            Akhirnya seorang mahasiswa senior yang pernah menjabat Ketua HMPS periode sebelumnya mengetengahi perdebatan itu. Meminta pengakuan dan permohonan maaf dari Ketua HMPS lama kepada para peserta sidang atas kelalaiannya dalam memimpin, dan ia juga meminta peserta sidang tidak semena-mena menyalahkan ketua yang tak membangun komunikasi dengan bawahan-bawahannya sehingga banyak program kerja yang tersusun untuknya tidak terlaksana sebagaimana mestinya.

            Sidang Pleno dua diakhiri dengan mengesahkan lembaran LPJ dari Kepengurusan lama dengan beberapa syarat dari peserta sidang yang sudah disepakati. Seluruh peserta sidang membubarkan diri. Aku berjalan seorang diri menuju gerbang kampus mengarah pulang. Seorang mahasiswa berjalan persis di belakangku…

            “ehhmm, aktivis ya?” Sapanya setelah langkah kami sejajar. Entah atas dasar apa dia menebak seperti itu. Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Ridho Irawan, Ketua HMPS lama yang tadi diserbu pertanyaan dari peserta sidang.

            “masuk organisasi apa?” lanjutnya.

            “LDK sama UKM BKM kak.” jawabku singkat.

            “tadi di ruang sidang kenapa diam aja? kok ga ikut bersuara seperti yang lainnya?”

            “pada sidang satu aja udah cukup menyuarakan pendapat kok kak.” kembali ku jawab pertanyaannya seperlunya. "aku cukup kasian saat beberapa peserta sidang melemparkan banyak pertanyaan yang menyudutkanmu. Jadi kalau aku ikut-ikutan menambah pertanyaan, kasian kamu nya kak." simpanku dalam hati.

 Kami terus melangkah sampai pada persimpangan menuju kosku. Seorang senior kemudian menghampiri kami. Ridho kemudian menaiki motornya sembari tersenyum pertanda mohon dirinya. Aku membalas dengan senyum yang sama. Seringkali setiap perjalanan pulang aku melihatnya mengendarai motor dengan arah yang sama. Tapi aku memang tak pernah menegurnya. Begitupula ia yang menurut pengakuannya memang adalah tipe orang yang tak berani menegur orang yang belum dikenal terlebih dahulu, tapi kali ini dia seperti ingin merubah ketidakberaniannya yang merugikan dirinya itu hingga menyebabkan dia selalu mengalami kesulitan berkomunikasi dengan para perangkat kepengurusan periode jabatannya. Semoga ia berhasil, do’aku.

Sidang hari kedua memasuki agenda Pleno ketiga dan  pembagian anggota komisi dimulai dengan menghitung dari A sampai C menurut kursi yang kami tempati. Masing-masing komisi membicarakan hal yang berbeda. Untuk komisi A, dimulai dengan mengusulkan struktur kepengurusan yang baru beserta program kerjanya. Pembahasan AD/ART menjadi  tugas Komisi B dan aku bersama anggota komisi C lainnya kebagian tugas memberikan beberapa rekomendasi tambahan kegiatan untuk program kerja kepengurusan berikutnya. Sayang sekali, aku tak menempati komisi yang sama dengan Arif. Usai memberikan beberapa rekomendasi, mataku tak lepas memandangi sosoknya yang tengah serius dengan pembahasannya bersama anggota komisi A lainnya.

           
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar